Senin, 24 Oktober 2022

KISAH Abu Hurairah & Arrijal bin Anfawah


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari melintas lewat. Dan bersama Abu Hurairah beberapa orang sahabat. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata : “Sesungguhnya di tengah- tengah kalian seorang lelaki giginya di dalam neraka lebih besar daripada gunung Uhud“. Ini adalah berita dari Rasul bahwa salah seorang dari mereka akan menjadi penghuni Neraka.

    Berjalannya waktu, satu demi satu para sahabat tersebut wafat di atas kebaikan, di atas islam dan iman. Dan tidak tersisa kecuali Abu Hurairah dan seorang lelaki dari Bani Hanifah, bernama Arrijal bin Anfawah. Dia termasuk orang yang datang bertemu dengan Rasulullah bersama rombongan Bani Hanifah, Jumlah mereka 13 an orang, seluruhnya masuk islam. Kemudin setelah itu Arrijal bin Anfawah terus menerus bersama Nabi, dia mengambil ilmu darinya, menghafal Al-qur’an dan Ahkam dan bersungguh-sungguh dalam ibadah. Berkata Rofi’ bin Khadiij : “Terdapat pada Arrijal kekhusyukan, ketekunan dalam membaca Qur’an dan kebaikan yang menakjubkan”. Dan berkata Ibnu Umar : “Dia termasuk orang yang paling utama yang datang kepada kami”. Subhaanallah, Dia adalah seorang hafidz Qur’an, rajin solat malam dan kuat puasa. Berita dari Nabi masih terus terngiang dan melekat diingatan Abu Hurairah. Tiap kali dia melihat Arrijal bin Anfawah dan ketekunannya dalam ibadah serta kezuhudnnya. Abu Hurairah menyangka dirinya yang akan binasa dan dialah yang dimaksudkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Diapun merasa khawatir dan takut. Ketika muncul Musailamah Al Kazzab di negri Yamamah dan mengaku sebagai seorang Nabi banyak orang mengikutinya. Abu Bakar mengutus Arrijal bin Anfawah kepada penduduk Yamamah untuk menyeru mereka kepada Allah. Dan mengkokohkan mereka di atas islam. Ketika Arrijal sampai di Yamamah, Musailmah menemuinya, kemudian memuliakannya dan menawarkan kepadnya harta dan emas. Dan juga menawarkan kepadanya setengah kerajaannya bila dia menjumpai manusia dan mengatakan kepada mereka : bahwasanya dia telah mendengar Nabi Muhammad mengatakan : bahwasanya Musailamah adalah serikatnya dalam kenabiaan. Maka ketika Arrijal melihat kenikmatan yang ada pada Musailamah sedangkan dia orang miskin, diapun menjadi lemah dan melupakan keimanannya, puasanya dan zuhudnya. Akhirnya diapun keluar kepada orang orang yang mengenalinya sebagai seorang sahabat Nabi. Dia bersaksi bahwasanya dia telah mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : Sesungguhnya dia telah menjadikan Musailamah serikatnya dalam kenabian.

    Maka dengan itu fitnahnnya Arrijal lebih besar daripada fitnahnnya Musailamah Al Kazzab sehingga dengan sebab itu banyak orang yang tersesat dan menjadi pengikut Musailamah hingga pasukannya mencapai lebih dari 40 ribu pasukan. Kemudian Abu Bakar menyiapkan pasukan untuk memerangi Musailamah, namun mereka kalah di awal peperangan. Maka Abu Bakar mengirim tambahan pasukan dan menunjuk Khalid bin Walid (pedang Allah) sebagai panglimanya. Kemudian terjadilah perang yang sangat sengit dan dahsyat hingga pasukan Musailmah terkalahkan dan Musailmah terbunuh di tangan Wahsyi (pembunuh Hamzah paman Rasul) dan terbunuh pula Arrijal bersama pengikut Musailamah yang lainnya, diapun mati dalam keadaan tercela dan hina di atas kekufuran. Ketika Abu Hurairah mengetahui kabar terbunuhnya Arrijal dia tersungkur sujud bersyukur kepada Allah ta’ala setelah dia mengetahui dirinya selamat.

Arrijal bin Anfawah hidup bersama Nabi tekun beribadah dan membaca Qur’an lagi zuhud. Akan tetapi hidupnya berakhir dengan keburukan. Dia tersesat dan menyesatkan dan mati di atas kekufuran. Sedangkan Wahsyi bin Harb yang telah membunuh hamzah (singa Allah) mendapatkan hidayah Allah ta’ala, hidupnya berakhir dengan kebaikan dan menjadi salah seorang mujahidin terbaik.

PS:📚 Al Bidayah Wa Annihayayah. Karya : Ibnu Katsir : 6/323.

(Jazakallah khairan katsiran bagi yang telah menyebarkan hingga ter-publish-nya di blog kami, semoga kita dikumpulkan dalam pahala jariyah Bergama)